← Back to Blog

Dari "Untuk" Menjadi "Bersama": Tentang Cara Kami Memaknai Inklusi

Atilla Rizkyara
Founder & CEO of STARA
Ananda Asyifa Salsabiela
Co-Founder & COO of STARA

STARA Collaboration Event with Abang None Jakarta Utara

Banyak inisiatif lahir dengan niat baik: menciptakan program untuk teman-teman difabel. Kita percaya bahwa niat ini penting, dan sering kali datang dari empati yang tulus. Tapi, apakah itu yang benar-benar dibutuhkan dan menjadi prioritas bagi keberlangsungan hidup teman-teman difabel?

Posisi akhir sebagai penerima keputusan maupun manfaat akan suatu hal dianggap sebagai porsi utama bagi teman-teman difabel. Padahal, porsi besar berupa keterlibatan sudut pandang, pengetahuan akan kebutuhan sesungguhnya, dan bagaimana peran mereka berjalan dalam lingkup sosial adalah hal utama yang seharusnya kita sadari dan pahami bersama sejak awal.

Di STARA, kami percaya bahwa inklusi bukan hanya tentang membuatkan solusi, melainkan tentang menciptakannya bersama. Co-creation bukan sekadar metode, tetapi sikap: mengakui bahwa penyandang disabilitas adalah ahli atas pengalaman mereka sendiri, dan bahwa inovasi yang bermakna hanya bisa lahir ketika semua pihak duduk di posisi yang setara.

Selama bertahun-tahun, pendekatan terhadap difabel sering berangkat dari asumsi bahwa bantuan adalah jawaban utama. Akibatnya, banyak solusi dirancang tanpa benar-benar memahami konteks hidup orang-orang yang akan menggunakannya. Ketika suara teman-teman difabel tidak hadir sejak awal proses, solusi yang dihasilkan berisiko terasa jauh, tidak relevan, atau bahkan melelahkan bagi mereka yang seharusnya terbantu.

Padahal, teman-teman difabel tidak selalu membutuhkan jawaban baru. Dalam banyak kasus, mereka sudah menemukan cara untuk menavigasi keterbatasan sistem di sekelilingnya. Yang sering kali mereka butuhkan adalah ruang untuk dilibatkan, didengarkan, dan diakui sebagai rekan setara dalam proses penciptaan.

STARA hadir sebagai Inclusive Innovation Hub yang berangkat dari kesadaran tersebut. Kami membangun ruang kolaborasi tempat orang dengan dan tanpa disabilitas dapat belajar, bekerja, dan berinovasi bersama. Fokus kami bukan sekadar menciptakan program yang inklusif secara label, tetapi memastikan bahwa inklusi benar-benar terwujud dalam prosesnya.

Dalam setiap inisiatif STARA, penyandang disabilitas terlibat sebagai co-creator, pendidik, fasilitator, dan profesional. Perspektif mereka tidak ditempatkan di akhir sebagai validasi, tetapi menjadi fondasi sejak tahap perancangan. Bagi kami, co-creation adalah cara untuk memastikan bahwa solusi yang lahir tidak hanya baik secara konsep, tetapi juga relevan secara nyata.

Pendekatan ini tercermin dalam business unit edukasi bernama STASLE yang menjadi fondasi awal berdirinya STARA, yakni sebuah program pembelajaran Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) di mana interaksi antara teman Tuli dan teman Dengar terbangun dan melatih aspek keterampilan berlangsung secara kolaboratif. Di ruang ini, teman-teman Tuli tidak hanya belajar atau hadir sebagai simbol inklusi, tetapi memimpin proses belajar itu sendiri. Relasi yang terbangun bukan relasi pengajar dan peserta yang hierarkis, melainkan ruang saling belajar yang setara.

Meskipun begitu, inklusivitas yang terbangun melalui program kelas hanyalah sebuah permulaan kecil, aspek lain yang kami bangun bersama melalui pengembangan program STASLE+, membuktikan bahwa co-creation juga dapat hadir dalam bentuk praktik profesional. Workshop yang difasilitasi oleh barista Tuli maupun instruktur disabilitas netra membuka ruang bagi peserta non-difabel untuk belajar langsung dari pengalaman hidup dan keahlian mereka. Peran teman-teman difabel tidak bersifat representatif, tetapi esensial dalam keseluruhan proses, bahwa setiap individu, terlepas dari kondisi yang melekat pada dirinya, dapat berdaya dan memberdayakan sekitarnya.

STASLE+ Workshop: Mentored by Deaf Barista

Pendekatan yang sama kami terapkan dalam pengembangan AKSERA, teknologi live transcript yang dirancang untuk mendukung mahasiswa Tuli di lingkungan akademik. Sejak awal, kebutuhan, kebiasaan, dan strategi adaptasi Teman Tuli menjadi titik berangkat dalam proses pengembangan. Dengan cara ini, teknologi tidak hadir sebagai solusi yang dipaksakan, melainkan sebagai alat yang tumbuh dari pengalaman nyata penggunanya.

AKSERA Showcase Event 2025

Dalam perjalanan kami, satu hal menjadi semakin jelas: inklusi yang memberdayakan tidak lahir dari rasa kasihan, melainkan dari kepercayaan. Kepercayaan bahwa teman-teman difabel memiliki kapasitas, pengetahuan, dan agensi atas hidup mereka sendiri. Ketika kepercayaan ini menjadi dasar kolaborasi, dampak yang tercipta terasa lebih jujur dan berkelanjutan.

Co-creation menggeser posisi penyandang disabilitas dari penerima manfaat menjadi aktor utama perubahan. Pendekatan ini bukan hanya menghasilkan solusi yang lebih sesuai, tetapi juga membangun rasa kepemilikan bersama dan relasi yang lebih setara antarindividu dan komunitas.

Bagi STARA, inklusi bukan tujuan akhir, melainkan praktik yang terus kami pelajari dan sempurnakan. Kami menyadari bahwa proses ini tidak selalu mudah dan tidak selalu cepat. Namun, kami percaya bahwa perubahan yang bermakna memang membutuhkan waktu, kerendahan hati, dan kemauan untuk berjalan bersama.

Artikel ini menjadi pembuka dari rangkaian cerita STARA berikutnya tentang program, teknologi, dan kolaborasi yang kami bangun melalui semangat co-creation. Bukan untuk berbicara atas nama, tetapi untuk terus menciptakan ruang bersama.